header image
 

Bertawassul Atas Nama Rasul …!!?

www.eramuslim.com…..Ahmad Sarwat, Lc

Secara bahasa, tawassul artinya taqarrub atau mendekatkan diri. Seperti kita berkata bahwa saya bertawassul kepada Allah dengan amal, maksudnya saya bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah lewat amal shalih.

Tawassul adalah salah satu bentuk ibadah yang diperintahkan Allah SWT, dengan segala tata cara yang telah ditetapkan. Bahkan ada perintah khusus buat kita untuk bertawassul, sebagaimana firman Allah SWT:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ وَابْتَغُواْ إِلَيهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُواْ فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.(QS. Al-Maidah: 35)

Bahkan Allah SWT memuji orang yang bertawassul dalam salah satu firman-Nya:

أُولَـئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورً
Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang ditakuti. (QS. Al-Isra’: 57)

Lanjutkan membaca ‘Bertawassul Atas Nama Rasul …!!?’

Perbedaan Tentang Batasan Bid’ah

Ahmad Sarwat, Lc.

Para ulama memang berbeda pendapat ketika mendefinisikan bid’ah. Definisi yang disodorkan oleh para ulama tentang isitlah ini ada sekian banyak versi.

Hal itu lantaran persepsi mereka atas bid’ah itu memang berbeda-beda. Sebagian mereka ada yang meluaskan pengertiannya hingga mencakup apapun jenis perbuatan yang baru atau diada-adakan, sedangkan yang lainnya menyempitkan batasannya.

Dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah (Ensiklopedi Fiqih) jilid 8 keluaran Kementrian Wakaf dan Urusan Ke-Islaman Kuwait halaman 21 disebutkan bahwa secara umum ada dua kecenderungan orang dalam mendefinisikan bid’ah.

Lanjutkan membaca ‘Perbedaan Tentang Batasan Bid’ah’

10 Shortcut MS Word untuk Mempercepat Editing

Rabu, 14/05/2008 12:49 WIB

Tips & Tricks dikutip dari (Dewi Widya Ningrum - detikinet)

Pengguna aplikasi Microsoft Word seringkali menghabiskan banyak waktu untuk mengerjakan bermacam pekerjaan kantoran. Walhasil, banyak waktu terbuang hanya untuk mengedit dan merapikan font, paragraf dan kata-kata.

Sebagai contoh, Anda sudah terlanjur mengetik dua baris judul dokumen dengan huruf kecil. Namun Anda ingin mengubah judul tersebut menjadi huruf besar, dan terpaksa Anda harus mengetik ulang judul tersebut dari awal. Waktu Anda jadi terbuang pastinya.

Ada banyak kunci rahasia di Microsoft Word yang bisa Anda terapkan untuk mengedit dokumen sehingga waktu Anda tak terbuang banyak. Berikut ini 10 tombol singkat alias shortcut yang bisa mempermudah pekerjaan Anda:

Lanjutkan membaca ‘10 Shortcut MS Word untuk Mempercepat Editing’

Lima Jenis Ke-”GILA”-an

Terdapat berbagai jenis kegilaan di dunia ini. Kita akan membahas lima jenis kegilaan yang paling umum.

  1. Gila yang berasal dari akal pikiran.
  2. Gila akan wanita.
  3. Gila akan uang.
  4. Gila akan mabuk-mabukan.
  5. Gila akan kebijaksanaan.

Pada sebuah persimpangan jalan di dekat taman, berdiri sebuah pohon yang teduh. Lima orang dengan lima jenis kegilaan duduk bersama di bawah pohon tersebut. Mereka berbicara dengan diri mereka sendiri. Bagi orang yang berlalu-lalang, lima orang ini terlihat sama, tetapi terdapat alasan yang berbeda atas kegilaan mereka.

Lanjutkan membaca ‘Lima Jenis Ke-”GILA”-an’

Azab Kubur Tidak Ada … ? :-/

Ust. Achmad Sarwat, Lc.

Salah satu bentuk pemurtadan dan penghancuran Islam adalah dengan menanamkan keragu-raguan kepada hadits nabawi. Cara ini oleh musuh Islam dipandang sangat efektif, karena lumayan hemat tenaga, tetapi punya dampak kehancuran yang besar.

Contoh yang paling mudah adalah tentang ingkarnya sebagai umat Islam terhadap adanya siksa kubur. Alasannya, karena siksa kubur itu tidak disebutkan di dalam Al-Quran. Hanya disebutkan di dalam hadits, lalu hadits-hadits itu dituduh sebagai hadits yang lemah.

Padahal kedua argumentasi itu salah besar. Siapa bilang Al-Quran tidak bicara siksa kubur? Dan siapa bilang hadits tentang siksa kubur itu lemah?

Yang lemah bukan hadits tentang siksa kubur, tapi barangkali ilmu dan wawasan penulis buku itu sendiri. Sebab bagaimana mungkin ada orang yang mengaku beragama Islam, tetapi masih saja tidak paham dengan ayat Al-Quran? Atau masih tidak bisa membedakan mana hadits yang shahih dan mana yang tidak shahih? Apalagi sampai berani menulis buku, tapi sayangnya isinya tidak menggambarkan keluasan ilmu, kecuali hanya sekedar menjiplak habis pemikiran kufur materialis barat.

Lanjutkan membaca ‘Azab Kubur Tidak Ada … ? :-/’

Paham-”i” Sunnah Nabawiyah?

Ahmad Sarwat, Lc

Sebenarnya yang terjadi memang agak lucu, karena ternyata istilah sunnah itu dipakai oleh banyak kalangan, namun dengan pengertian masing-masing. Sehingga ketika mereka saling berkomunikasi dengan cara yang tidak komunikatif, terjadilah kesalah-pahaman itu.

Sebelum kami jelaskan lebih lanjut di mana letak titik masalah, kami ingin menceritakan sebuah kisah pengalaman lucu. Mungkin bisa membantu menjelaskannya.

Pada suatu hari datang seorang tamu istimewa ke rumah kami. Beliau bernama Tuan Ismail, berasal dari negeri jiran, Malaysia. Beliau berkantor di dekat kediaman kami, Kedutaan Besar Malaysia dan menjabat sebagai Atase Agama di Kedutaan itu.

Lanjutkan membaca ‘Paham-”i” Sunnah Nabawiyah?’

Bakul oh Marketing ….. ?

suatu ketika, ketika dalam perjalanan dari kantor ke rumah saya menyempatkan diri untuk mampir di tempat penjualan buah yang ada di pinggir jalan. Maunya sih ingin membelikan si kecil dan kakak-kakaknya buah jeruk, maklum mereka sangat suka sekali dengan buah yang satu ini.

Banyak sekali pedagang yang mangkal di pinggir jalan tersebut, rasanya barang dagangan mereka juga hampir semua sama yaitu buah-buahan. Saya sempat berpikir apa dagangan mereka semua laku ? dengan begitu banyaknya saingan. Dari sekian banyak pedagang tersebut, semua memasang label harga yang sama. Saya melihat kesamaan lain dari para pedagang buah ini yaitu mereka telah mengemas jeruk dagangan mereka dengan keranjang yang terbuat dari anyaman tali plastik.

Seketika itu pula yang ada di benak saya adalah bahwa harga dari sekeranjang jeruk yang mereka jual adalah seperti yang tertera di label yang mereka pasang. Hitung punya hitung “Ah uang dikantong masih cukuplah kalau untuk membeli 2 keranjang jeruk”. Akhirnya saya pun mampir di salah satu pedagang untuk membeli jeruk.

Setelah memilih jeruk yang saya inginkan, sempat kepikir untuk langsung ambil 2 keranjang, tapi kenapa ada dorongan untuk mencoba satu aja dulu. Benar saja setelah karanjang yang saya pilih saya kasih ke pedagangnya untuk di kasih tas plastik, ternyata beliau meletakkannya diatas timbangan. Apa maksudnya ini..?

Setelah menimbang si pedagang langsung mengatakan bahwa harga yang harus saya bayar adalah sejumlah yang besarnya dua kali dari harga yang tertera di label yang mereka pasang, bahkan lebih sedikit. “Lho kok harganya segitu….?, bukankah harganya seperti yang ada di depan itu…?”.  “Iya mas, harga yang di pasang disitu adalah harga per kilo-nya”. “Hah kok gak dikasih kata per kilo …..” .

Untung tadi ambil satu dulu, (pikir saya, maklum uang dikantong hanya cukup untuk harga yang di katakan oleh pedagang tersebut). Coba kalau tadi langsung ambil 2 keranjang, malu dong…… harus kembalikan lagi yang sekeranjang.

Ini sebenarnya merupakan trik marketing atau sudah masuk dalam pembohongan publik ?

Bodohnya aku ini, kenapa gak nanya dulu sih……..

Sholat

Secara bahasa, shalat itu bermakna doa. Shalat dengan makna doa dicontohkan di dalam Al-Quran Al-Karim pada ayat beikut ini.

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan shalatlah (mendo’alah) untuk mereka. Sesungguhnya shalat (do’a) kamu itu ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.(QS. At-Taubah: 103)

Dalam ayat ini, shalat yang dimaksud sama sekali bukan dalam makna syariat, melainkan dalam makna bahasanya secara asli yaitu berdoa.

Secara syariat, istilah shalat bermakna: Serangkaian ucapan dan gerakan yang tertentu yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam sebagai sebuah ibadah ritual.

gb Sholat

Pertama Kali Perintah Shalat

Lanjutkan membaca ‘Sholat’

Bumi Planet Pilihan Allah Buat Adam

http://www.eramuslim.com…Sabtu, 5 Jan 08 06:39 WIB
Ahmad Sarwat, Lc

Rasanya bumi ini memang tempat yang paling tepat buat makhluk hidup seperti kita manusia ini. Juga buat hewan dan tumbuhan tentunya.

Bahkan di dalam Al-Quran Allah SWT telah memilih planet bumi sebagai tempat kehidupan nabi Adam dan umat manusia.

Allah berfirman, “Turunlah kamu sekalian, sebahagian kamu menjadi musuh bagi sebahagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan. Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan.” (QS. Al-A’raf: 24)

Kata mustaqar bermakna tempat kediaman. Sementara di alam semesta ini ada triliunan planet dan jutaan di antaranya dengan Bumi.Tetap saja sampai sekarang belum ditemukan kehidupan dari angkasa luar. Langit yang hitam kelam itu ternyata senyap.

Ayat di atas dengan sempurnanya menjelaskan bahwa sejak awal kehidupannya manusia memang diciptakan di planet ini, selama hidup juga di sini, dan akhirnya mati serta kebangkitannya juga bakal terjadi di Bumi. Tidak ada planet sesempurna bumi ini yang bisa digunakan sebagai tempat hidup makhluk seperti manusia, selama jutaan tahun. Bahkan sampai rusaknya atau kiamatnya Bumi ini. Kemudian masih diteruskan sampai datangnya hari berbangkit.

Jadi belum rasanya belum ada tanda-tanda atau isyarat ilmiyah tentang adanya kehidupan umat manusia di luar bumi, setidaknya sampai hari ini.

Kenapa Bumi Yang Dipilih?

Lanjutkan membaca ‘Bumi Planet Pilihan Allah Buat Adam’

Gapai cinta hakiki…….

حدثنا ‏ ‏زهير بن حرب ‏ ‏حدثنا ‏ ‏جرير ‏ ‏عن ‏ ‏سهيل ‏ ‏عن ‏ ‏أبيه ‏ ‏عن ‏ ‏أبي هريرة ‏ ‏قال ‏
‏قال رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏إن الله إذا أحب عبدا دعا ‏ ‏جبريل ‏ ‏فقال إني أحب فلانا فأحبه قال فيحبه ‏ ‏جبريل ‏ ‏ثم ينادي في السماء فيقول إن الله يحب فلانا فأحبوه فيحبه أهل السماء قال ثم يوضع له القبول في الأرض وإذا أبغض عبدا دعا ‏ ‏جبريل ‏ ‏فيقول إني أبغض فلانا فأبغضه قال فيبغضه ‏ ‏جبريل ‏ ‏ثم ينادي في أهل السماء إن الله يبغض فلانا فأبغضوه قال فيبغضونه ثم توضع له البغضاء في الأرض ‏
‏حدثنا ‏ ‏قتيبة بن سعيد ‏ ‏حدثنا ‏ ‏يعقوب يعني ابن عبد الرحمن القاري ‏ ‏وقال ‏ ‏قتيبة ‏ ‏حدثنا ‏ ‏عبد العزيز يعني الدراوردي ‏ ‏ح ‏ ‏و حدثناه ‏ ‏سعيد بن عمرو الأشعثي ‏ ‏أخبرنا ‏ ‏عبثر ‏ ‏عن ‏ ‏العلاء بن المسيب ‏ ‏ح ‏ ‏و حدثني ‏ ‏هارون بن سعيد الأيلي ‏ ‏حدثنا ‏ ‏ابن وهب ‏ ‏حدثني ‏ ‏مالك وهو ابن أنس ‏ ‏كلهم ‏ ‏عن ‏ ‏سهيل ‏ ‏بهذا الإسناد ‏ ‏غير أن حديث ‏ ‏العلاء بن المسيب ‏ ‏ليس فيه ذكر البغض ‏ ‏حدثني ‏ ‏عمرو الناقد ‏ ‏حدثنا ‏ ‏يزيد بن هارون ‏ ‏أخبرنا ‏ ‏عبد العزيز بن عبد الله بن أبي سلمة الماجشون ‏ ‏عن ‏ ‏سهيل بن أبي صالح ‏ ‏قال ‏ ‏كنا ‏ ‏بعرفة ‏ ‏فمر ‏ ‏عمر بن عبد العزيز ‏ ‏وهو على الموسم فقام الناس ينظرون إليه ‏ ‏فقلت ‏ ‏لأبي ‏ ‏يا أبت إني أرى الله يحب ‏ ‏عمر بن عبد العزيز ‏ ‏قال وما ذاك قلت لما له من الحب في قلوب الناس فقال بأبيك أنت ‏ ‏سمعت ‏ ‏أبا هريرة ‏ ‏يحدث عن رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏ثم ذكر ‏ ‏بمثل حديث ‏ ‏جرير ‏ ‏عن ‏ ‏سهيل ‏
 

Hadis riwayat Abu Hurairah رضي الله عنه, ia berkata:Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda: Sesungguhnya apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan memanggil Jibril dan berkata: Sesungguhnya Aku mencintai si polan maka cintailah dia! Jibril pun mencintainya. Kemudian dia menyeru para penghuni langit: Sesungguhnya Allah mencintai si polan, maka cintailah dia! Para penghuni langitpun mencintainya. Kemudian dia pun diterima di bumi. Dan apabila Allah membenci seorang hamba, maka Dia memanggil Jibril dan berkata: Sesungguhnya Aku membenci si polan, maka bencilah pula dia! Jibril pun membencinya. Kemudian dia menyeru para penghuni langit: Sesungguhnya Allah membenci si polan, maka bencilah kepadanya. Para penghuni langit pun membencinya. Kemudian kebencianpun merambat ke bumi (HR. Muslim 4772, Hadits Qudsi).

Dari sini perlu kita renungkan, bagaimana kita dapat meraih cinta tersebut.

Sebagaimana usaha yang kita lakukan ketika kita mengharapkan cinta kasih dari seseorang, maka kita akan melakukan segala hal yang dapat mendorong orang tersebut dapat  memberikan cintanya kepada kita,  tentunya dengan mencintai apa yang dicintainya dan membenci segala apa yang dibencinya.

 Begitupula pengharapan kita akan cinta dan kasih dari Ilahi, maka yang harus kita lakukan adalah mencintai segala apa yang dicintainya dan membenci segala apa yang Beliau benci.  Dalam hal ini apa yang Beliau cintai (sekuat tenaga kita akan melakukannya) dan benci (sekuat tenaga akan kita jauhi) telah tertuang dalam Al Qur’an dan Tauladan Rosulullah (Hadits) sebagai pedoman hidup.

 Semoga kita dapat meraih cinta sesama kita karena Allah mencintai kita.